Beberapa Perasaan Negatif yang Umum Dihadapi Oleh Remaja

Beberapa Perasaan Negatif yang Umum Dihadapi Oleh Remaja

Beberapa Perasaan Negatif yang Umum Dihadapi Oleh Remaja – Pubertas merupakan suatu tahap perkembangan seorang anak menjadi dewasa secara seksual. Pada perempuan, pubertas terjadi pada rentang usia 10−14 tahun. Selama masa pubertas, perubahan fisik yang akan dihadapi anak remaja dapat terjadi secara signifikan. Tetapi aspek yang lebih menantang dari pubertas adalah berurusan dengan semua perasaan negatif yang menyertainya.

Dalam masa pubertas, remaja perempuan maupun laki-laki akan merasakan adanya perubahan dalam tubuh mereka. Perubahan tubuh ini terjadi karena pengaruh dari perubahan hormon semasa pubertas. Inilah yang membuat remaja merasa bingung, frustrasi, dan bahkan marah karena ia tidak memiliki pengalaman untuk mengetahui cara mengelola emosi negatif.

Walaupun mungkin dapat membuat Mama kewalahan, ada beberapa cara yang dapat membantu anak belajar bagaimana mengatasi perasaan negatif yang muncul dengan sendirinya. Di akan membahas beberapa perasaan negatif yang paling umum dihadapi oleh remaja, dan cara untuk mengatasinya.

1. Kesedihan
1. Kesedihan

Setiap remaja akan merasakan kesedihan pada beberapa periode waktu. Kesedihan ini mungkin disebabkan oleh insiden tertentu, seperti pertengkaran dengan seorang teman, atau bahkan anak merasa sedih atas alasan yang tidak diketahuinya.

Ketika anak sedih, ia mungkin tidak ingin melakukan banyak hal dan mungkin memutuskan untuk menjaga diri sendiri. Sehingga cobalah untuk memberikan anak sedikit ruang untuk menyelesaikan semuanya sendiri. Terkadang sedikit waktu menyendiri sangat membantu.

Mama juga dapat menawarkan diri sebagai seseorang yang dapat diajak bicara oleh anak, atau menyarankan agar ia mencari nasihat dari teman atau saudaranya.

Namun jika anak tampaknya tidak dapat mengatasi kesenangannya setelah beberapa waktu, Mama mungkin perlu meminta nasihat dari konselor bimbingan atau dokter.

2. Kemarahan
2. Kemarahan

Kemarahan adalah salah satu emosi yang paling sulit untuk ditaklukkan, baik untuk anak-anak maupun orang dewasa.

Seorang remaja yang marah akan memiliki banyak energi yang tidak dapat ia kendalikan, dan mungkin merasa seperti akan meledak. Mama dapat membantu menurunkan emosi anak dengan menetapkan batasan pada agresi.

Misalnya, anak diizinkan untuk mengatasi kemarahan melalui latihan fisik, tetapi tidak dengan mengomeli atau meneriaki adik-adiknya. Selain itu, pastikan remaja tahu bahwa ia boleh mengekspresi perasaan, namun harus mengelola amarahnya dengan baik.

Bantu anak mengidentifikasi pemicu amarahnya. Kemudian kembangkan cara untuk mengalihkan dan mengatasi ledakan emosi tersebut secara positif.

3. Paranoia
3. Paranoia

Tak sedikit remaja yang terobsesi dengan dirinya sendiri di usia ini. Dan obsesi tersebut akan menyebabkan anak berpikir bahwa sesuatu yang buruk akan selalu terjadi atau tidak ada seorang pun yang dapat dipercaya.

Perubahan pubertas dan bertumbuh dewasa tak diragukan lagi akan membingungkan remaja mama dari waktu ke waktu sehingga menimbulkan paranoia.

Ini mungkin menjadi langkah yang sulit untuk diambil, tetapi seorang remaja yang menderita paranoia jangka panjang bisa menimbulkan masalah lain, jadi jangan tunda untuk mencari bantuan.

4. Rasa malu
4. Rasa malu

Ketika kesadaran diri anak mulai tumbuh, rasa malu dapat berkembang secara intens. Misalnya, anak mungkin takut teman sebaya akan mengejek potongan rambut atau pakaian barunya.

Jika anak mama mengalami kesulitan mengontrol kepercayaan dirinya, Mama dapat membantu anak meminimalkan perasaan ini dengan mengajarkannya keterampilan sosial.

Anak akan perlahan-lahan mendapatkan kepercayaan diri yang cukup, sehingga situasi yang memalukan menjadi lebih sedikit dan jarang terjadi.

5. Kecemburuan
5. Kecemburuan

Kecemburuan dapat menghadirkan sejumlah tantangan bagi seorang remaja. Anak mungkin merasa bersaing dengan teman, saudara kandung, atau bahkan seseorang yang bahkan tidak ia kenal dengan baik.

Harga diri yang rendah dapat membuat remaja merasa cemburu pada orang lain, dan bahkan mengganggu hubungan teman sebaya.

Kecemburuan yang ekstrim bahkan dapat menyebabkan anak memperlakukan orang lain dengan buruk, dan mengembangkan perilaku yang berpotensi merusak diri sendiri.

Kecemburuan yang abnormal atau patologis akan menyebabkan seorang remaja berperilaku dengan cara yang sangat mengontrol, dan itu tidak boleh ditoleransi. Terapi mungkin diperlukan untuk membantu anak yang tidak dapat mengelola atau mengendalikan kecemburuan.

6. Kebohongan
6. Kebohongan

Bagaimana dengan kebohongan? Berbohong sebenarnya bukan emosi, tapi perilaku. Namun, Mama tidak dapat berdiskusi secara menyeluruh tentang perasaan negatif remaja tanpa membahas kebohongan.

Jika anak berbohong karena ia tidak ingin membicarakan topik yang sensitif, sebaiknya hindari percakapan tersebut sampai ia siap.

Jika anak berbohong untuk menghindari masalah, Mama perlu memberi tahu anak bahwa kebenaran selalu merupakan jalan yang lebih mudah untuk diambil. Anak akan lebih terbuka dengan orangtuanya, jika Mama suka membantu dan tidak menghakimi.