Dampak Dari Pernikahan Dini Merusak Kesehatan Mental Remaja

Dampak Dari Pernikahan Dini Merusak Kesehatan Mental Remaja

Akibat Dampak Pernikahan Dini Dapat Merusak Kesehatan Mental RemajaRemaja adalah waktu manusia berumur belasan tahun. Pada masa remaja manusia tidak dapat disebut sudah dewasa tetapi tidak dapat pula disebut anak-anak. Masa remaja adalah masa peralihan manusia dari anak-anak menuju dewasa.

Kesehatan jiwa atau kesehatan mental adalah tingkatan kesejahteraan psikologis atau ketiadaan gangguan jiwa. Kesehatan jiwa terdiri dari beberapa jenis kondisi yang secara umum dikategorikan dalam ‘kondisi sehat’, ‘gangguan kecemasan’, ‘stres’ dan ‘depresi’.

Pernikahan adalah upacara pengikatan janji nikah yang dirayakan atau dilaksanakan oleh dua orang dengan maksud meresmikan ikatan perkawinan secara norma agama, norma hukum, dan norma sosial. Dilansir Club388 Indonesia, dalam rentang waktu Januari hingga Juni 2020, diketahui terdapat 34.000 pengajuan permohonan dispensasi untuk pernikahan dini (di bawah 19 tahun), yang mana 97 persennya dikabulkan.

Faktor yang melatarbelakangi peningkatan angka pengajuan dispensasi pernikahan ini pun beragam, dari mulai solusi perekonomian keluarga hingga pengaruh norma dan budaya di daerah setempat.

Berbagai penelitian telah membuktikan bahwa pernikahan dini berdampak negatif terhadap kesehatan remaja perempuan dan bayi yang dilahirkan. Menurut penelitian dalam Buletin Penelitian Sistem Kesehatan tahun 2020, pernikahan dini memicu risiko kematian ibu dan bayi sebesar 30 persen.

Apa saja gangguan kesehatan mental yang dapat dialami remaja perempuan ketika memutuskan untuk menikah di usia dini? Simak dan kenali jenis-jenisnya dalam penjelasan berikut ini!

1. Gangguan kecemasan

Dampak Pernikahan Dini terhadap Kesehatan Mental Remaja

Berdasarkan penelitian dalam MOJ Women’s Health tahun 2019, masa kehamilan adalah masa yang rentan terhadap berkembangnya anxiety disorder atau gangguan kecemasan dan depresi, terutama pada wanita yang hamil pada usia remaja.

Gangguan kecemasan adalah kondisi emosional yang berhubungan dengan perasaan takut seperti teror, waswas, dan panik.

2. Depresi pascapersalinan
Dampak Pernikahan Dini terhadap Kesehatan Mental Remaja

Dilansir Mayo Clinic, depresi pascapersalinan atau postpartum depression adalah kondisi gangguan mood yang ekstrem dan berlangsung dalam jangka waktu lama. Inilah yang membedakannya dengan baby blues, yang mana baby blues akan hilang setelah 1-2 minggu.

Depresi pascapersalinan memiliki gejala yang lebih parah dan lebih signifikan dibanding baby blues. Beberapa gejala yang perlu diwaspadai adalah kesulitan menjalin pendekatan dengan bayi, rasa lelah yang berlebihan, merasa tidak berharga, gelisah, serangan panik, memiliki pikiran untuk menyakiti bayi atau diri sendiri, serta susah untuk melakukan aktivitas sehari-hari.

1. Baby blues

Dampak Pernikahan Dini terhadap Kesehatan Mental Remaja

Dilansir Healthline, baby blues adalah kondisi ketika perempuan mengalami gejala-gejala seperti perubahan suasana hati, kecemasan, kesedihan, kesulitan berkonsentrasi, kesulitan tidur, kesulitan makan, dan rasa lelah yang berlebihan, setelah satu sampai dua minggu pascapersalinan.

Seperti dijelaskan di HelpGuide, baby blues disebabkan oleh perubahan hormon yang terjadi secara cepat setelah melahirkan, diikuti dengan stres, kurang tidur, dan kecapean.

4. Gangguan stres pascatrauma
Dampak Pernikahan Dini terhadap Kesehatan Mental Remaja

Penelitian dalam Journal of The American Academy of Pediatrics tahun 2014 menyebutkan bahwa perempuan yang mengandung di usia remaja berisiko mengalami gangguan stres pascatrauma atau post-traumatic stress disorder (PTSD).

Ini dikarenakan rata-rata wanita yang mengandung di usia remaja mengalami lebih dari 5 peristiwa traumatis yang meliputi kekerasan dalam rumah tangga, pelecehan dari orang tua, diterlantarkan, dikurung, dan rasa kehilangan.

5. Pemikiran bunuh diri
Dampak Pernikahan Dini terhadap Kesehatan Mental Remaja

Masih bersumber dari Journal of The American Academy of Pediatrics tahun 2014, wanita yang menikah di usia remaja memiliki risiko keinginan melakukan bunuh diri yang tinggi. Kurang lebih 19 persenremaja berusia 15-19 tahun menyatakan memiliki keinginan untuk bunuh diri, yang mana 9 persennya sudah melakukan upaya bunuh diri.

Untuk itu, pemerintah harus berusaha lebih giat lagi dalam melakukan mencegah pernikahan dini dengan melakukan penyuluhan di berbagai daerah yang memiliki kasus pernikahan dini cukup tinggi. Upaya ini juga dapat dilakukan dengan memanfaatkan media sosial dengan membuat kampanye atau akun media sosial yang fokusnya membahas mengenai dampak negatif dari pernikahan dini.