Inilah Tanda-tanda Anak Remaja yang Kurang Percaya Diri

Inilah Tanda-tanda Anak Remaja yang Kurang Percaya Diri

Inilah Tanda-tanda Anak Remaja yang Kurang Percaya Diri – Kepercayaan diri adalah suatu sikap atau keyakinan atas kemampuan diri sendiri, sehingga dalam melakukan tindakan tidak terlalu sering merasa cemas, merasa bebas untuk melakukan hal-hal yang sesuai dengan keinginan. Seringkali banyak orangtua yang tidak sadar, rendahnya harga diri atau low esteem pada remaja dapat berkembang menjadi berbagai sikap buruk yang merugikan dirinya sendiri.

Kepercayaan diri juga bisa diartikan sebagai suatu sikap disertai penilaian atas kemampuan diri sendiri yang didasari dari pencapaian yang telah berhasil dilakukan sehingga memiliki kemampuan lebih dalam menilai kelebihan dan kekurangan diri sendiri. Semua rasa sakit hati yang ia pernah alami, membuahkan perasaan bahwa dirinya tidak berharga.

Ketika anak belum bisa berdamai dengan diri sendiri, ini akan menimbulkan berbagai sikap dan perasaan negatif yang harus segera dihentikan. Dengan mengetahui tanda-tanda remaja yang kurang percaya diri, dapat membantu kamu memberikan pencegahan dini agar rasa rendah diri tidak memengaruhi perjalanan anak meraih impiannya di masa depan.

1. Tidak aktif dalam kegiatan sosial
1. Tidak aktif dalam kegiatan sosial

Usia remaja umumnya menjadi masa-masa seorang anak yang sedang aktif-aktifnya berkegiatan. Namun ketika anak tidak percaya diri, ini ditunjukkan dengan sikap pasif untuk melakukan kegiatan di lingkungan sosial.

Alasan lainnya adalah, anak menganggap bahwa tidak ada orang yang mendukungnya, atau ia tidak cukup berharga untuk bergaul dan bersanding dengan teman-teman sebayanya.

Sehingga, berdiam diri dan tidak bergaul dengan siapa-siapa menjadi salah satu upaya untuk melindungi diri sendiri dari penolakan.

2. Suka menunda tanggung jawab
2. Suka menunda tanggung jawab

Dilansir Psychology Today, sebuah studi menemukan bahwa orang-orang dengan tingkat harga diri atau self-esteem yang rendah cenderung memilih untuk menunda mengerjakan tugas. Hal ini dilakukan, agar mereka bisa menghindari penilaian orang lain.

Ketika anak tidak punya kepercayaan diri dengan apa yang ia lakukan, ia juga juga tidak memiliki keberanian untuk mengambil risiko dan menghadapi kegagalan.

Ini bisa disebabkan karena anak takut jika diejek, dikomentari, dan juga dikritik oleh orang lain. Namun, sikap ini bukan cara yang tepat. Karena dengan menunda apa pun, anak tidak akan bisa menyelesaikan tanggung jawabnya dengan benar.

3. Terlalu perfeksionis hingga terlalu keras pada diri sendiri
3. Terlalu perfeksionis hingga terlalu keras diri sendiri

Ini adalah salah satu tanda yang paling sulit untuk diperhatikan. Ketika Mama melihat anak yang belajar hingga tengah malam, tidak mau diganggu saat belajar, mudah stres ketika menemukan kesalahan, ini bisa jadi anak telah mengembangkan sikap perfeksionis.

Walaupun tak sepenuhnya salah, menjadi perfeksionis membuat seorang remaja memiliki gagasan bahwa ia yang tidak berharga di mata orang lain harus mengejar kesempurnaan agar memperoleh penerimaan. Ini membuatnya belajar begitu keras, agar dirinya terlihat sempurna.

Di sini orangtua harus mengingatkan anak, bahwa tidak ada manusia yang sempurna. Dalam hidup ini ada keberhasilan namun juga ada kegagalan, ini tidak apa-apa dan kegagalan apa pun tidak dapat mendefinisikan siapa diri anak yang sebenarnya.

4. Memiliki ambisi untuk mendapatkan pengakuan orang lain
4. Memiliki ambisi mendapatkan pengakuan orang lain

Sama halnya dengan sikap perfeksionis, anak yang memiliki ambisi atau keinginan tinggi untuk mencapai banyak hal, bisa menunjukkan rendahnya kepercayaan diri.

Walaupun memiliki ambisi dan keinginan tinggi sangat baik untuk memotivasi anak, hal yang kurang tepat adalah apa tujuan anak mencapai ambisi tersebut.

Namun ketika remaja mencoba menyenangkan satu pihak, belum tentu pihak lain akan puas, dan belum tentu diri sendiri juga puas dengan apa yang dijalani. Karena selalu ada tuntutan dan standar yang harus ia kejar.

5. Tidak berani menentukan keputusan sendiri
5. Tidak berani menentukan keputusan sendiri

Apakah anak mama selalu ragu-ragu saat ingin menentukan keputusan besar? Jika iya, ini bisa menjadi tanda kalau remaja memiliki harga diri yang rendah,

Rendahnya kepercayaan diri bisa membuat seorang remaja tidak dapat menentukan keputusannya sendiri. Pendapatnya mudah berubah karena memikirkan bagaimana tanggapan orang lain. Akhirnya, anak aka meragukan diri sendiri dalam mengambil keputusan.

Ketika Mama meminta anak untuk mencoba hal baru, ia akan selalu menganggap dirinya tidak pernah mampu dalam melakukan sesuatu. Memberikan kepercayaan pada anak untuk mengambil pilihan sendiri, adalah langkah awal yang bisa Mama coba untuk meningkatkan kepercayaan diri anak.