Kebiasaan yang Menyebabkan Pola Pikir Remaja Jadi Negatif

Kebiasaan yang Menyebabkan Pola Pikir Remaja Jadi Negatif

Kebiasaan yang Menyebabkan Pola Pikir Remaja Jadi Negatif – Pola pikir adalah sekumpulan asumsi, metode, atau gagasan yang dipegang oleh satu atau lebih orang atau sekelompok orang. Pola pikir juga dapat dilihat sebagai hal yang muncul dari pandangan dunia atau filosofi kehidupan seseorang. Setiap tindakan yang manusia lakukan, berasal dari pikirannya. Sehingga, ketika pikiran remaja cenderung negatif, maka ini akan berdampak pada perilakunya.

Dalam psikologi kognitif, pola pikir mewakili proses kognitif yang diaktifkan sebagai respons terhadap tugas yang diberikan. Maka dari itu, sangat penting untuk menjaga agar pikiran remaja selalu positif, agar ia juga bisa menebarkan kebaikan di lingkungan terdekatnya. Namun sama seperti orang dewasa, anak juga bisa terjebak dalam pikiran yang negatif.

Bagi orang dewasa saja, tidak mudah untuk membuat pikiran fokus pada hal-hal yang baik, terlebih lagi bagi remaja. Meskipun demikian, masih ada cara supaya pikiran anak tetap terjaga. Misalnya dengan meninggalkan beberapa kebiasaan yang membuat pola pikir negatif. Apa saja kebiasaan yang menyebabkan pola pikir remaja negatif? Cari tahu informasinya yang satu ini yuk!

1. Selalu berpikir negatif dalam segala situasi
1. Selalu berpikir negatif dalam segala situasi

Bukan rahasia umum lagi jika akar dari kebiasaan berpikir negatif adalah, pikiran yang negatif itu sendiri. Ketika anak mama sering mengeluh dan tampak putus asa, tandanya ia tidak berhenti memikirkan hal-hal buruk.

Ini dapat menyebabkan anak selamanya terjebak berada dalam pola pikir yang tidak berkembang. Ketika terjadi hal ini, penting bagi Mama untuk mencoba mengalihkan fokus anak ke hal lain, setiap kali pikiran negatifnya itu muncul.

Lakukan hal-hal sederhana yang dapat meningkatkan suasana hati remaja, seperti menyantap es krim bersama, menyaksikan film, atau sekadar berjalan-jalan di lingkungan sekita rumah. Hal demikian dilakukan untuk mengurangi kebiasaan yang bisa membuat pola pikir anak tidak maju.

2. Pesimis ketika menemukan hambatan baru dalam mencapai tujuan
2. Pesimis ketika menemukan hambatan baru dalam mencapai tujuan

Setiap remaja tentu ingin memiliki masa depan yang cerah. Sehingga tak sedikit dari mereka berusaha keras untuk mewujudkannya. Namun ketika melihat hambatan di tengah jalan, remaja bisa merasa takut pada sesuatu yang bahkan belum tentu terjadi.

Ketidaktahuannya atas apa yang akan terjadi, membuat anak mudah berpikir kemungkinan terburuk yang bisa saja ia alami. Nah, kebiasaan demikian dapat memicu pola pikirmu menjadi negatif. Sebab kamu terpengaruh pada ketakutan-ketakutan yang sebenarnya mungkin saja gak akan terjadi.

3. Mengembangkan rasa khawatir dan cemas yang berlebihan
3. Mengembangkan rasa khawatir cemas berlebihan

Pola pikir negatif tak hanya disebabkan perkara ketakukan remaja pada hal-hal yang belum terjadi. Namun, anak yang punya kebiasaan khawatir dan cemas dengan masa sekarang, sangat memungkinkannya untuk memiliki pola pikir negatif.

Misalnya, ketika anak akan menyampaikan presentasi di sekolah, dalam waktu tersebut ia kerap khawatir akan pendapat orang lain tentangnya, apakah presentasinya sudah bagus atau belum, atau apakah ia berhasil menyampaikannya atau tidak.

Hal inilah yang membuatnya rentan mengalami pikiran negatif, lantaran rasa khawatir dan cemas yang belum tentu benar adanya.

4. Selalu berfokus pada kegagalan atau kesalahan di masa lalu
4. Selalu berfokus kegagalan atau kesalahan masa lalu

Pengalaman kegagalan atau kesalahan di masa lalu yang belum tuntas cenderung berpengaruh pada pola pikir remaja di masa kini.

Kebiasaan untuk terus mengingat masa lalu yang tidak menyenangkan akan membuat anak jadi sulit untuk bisa melihat hal-hal baik dari setiap peristiwa baru, karena ia belum bisa berdamai dengan kegagalan di masa lalunya.

Walaupun baik melihat kegagalan masa lalu sebagai pelajaran, penting bagi remaja untuk belajar bagaimana berdamai dengan kenyataan saat ini. Maka dari itu penting bagi Mama untuk mengingatkan anak bahwa, sosok anak di masa lalu itu berbeda dengan yang saat ini.

Ini bisa dibuktikan dari bagaimana anak menemukan strategi baru untuk menghindari kegagalan yang terjadi di masa lalu.

5. Langsung meyakini bahwa pikiran negatifnya selalu benar
5. Langsung meyakini bahwa pikiran negatif selalu benar

Yup, tak dapat dipungkiri bahwa pikiran negatif akan selalu datang pada siapa pun dan usia berapa pun. Namun, remaja bisa menghilangkan pikiran buruknya dengan cara tidak langsung menyutujuinya pada saat itu juga.

Sebab, ketika anak selalu membenarkan pikiran negatif yang muncul, ia akan terbiasa untuk mengubah pikiran buruknya menjadi keyakinan yang melekat, yang nantinya cenderung sulit untuk diubah.

Maka jika anak mulai dipengaruhi oleh pikiran negatif, pastikan Mama selalu meminta anak untuk merenungkan. Apakah pikiran buruknya itu hanyalah sekadar ketakutan, atau fakta yang terjadi.