Lima Tanda Emotional Eating Pada Remaja yang Perlu Diwaspada

Lima Tanda Emotional Eating Pada Remaja yang Perlu Diwaspada

Lima Tanda Emotional Eating Pada Remaja yang Perlu Diwaspada – Makan emosional (juga dikenal sebagai makan stres) didefinisikan sebagai “kecenderungan makan sebagai respons terhadap emosi positif dan negatif”. Sementara istilah sering mengacu pada makan sebagai sarana untuk mengatasi emosi negatif, Setiap orang punya caranya tersendiri untuk mengatasi tekanan atau stres. Tidak jarang, seorang anak yang mengalami kesulitan beradaptasi di waktu remajanya akan memilih untuk mengonsumsi makanan favoritnya dalam jumlah banyak saat menghadapi situasi sulit.

Ketika Mama menganggap ini adalah hal wajar bagi seorang remaja untuk banyak ngemil, dalam dunia medis, keadaan seperti ini dikenal dengan istilah emotional eating.  Sayangnya, jenis makanan yang identik dengan kondisi ini umumnya tergolong tidak sehat. Misalnya, anak banyak mengonsumsi makanan yang tinggi gula dan lemak, terlalu gurih, dan lain-lain, yang dapat berujung pada peningkatan berat badan.

Untuk mengatasi emotional eating pada remaja, penting bagi Mama untuk mengetahui apa saja tanda-tandanya terlebih dahulu. Berikut 5 tanda emotional eatingpada anak remaja yang perlu diwaspadai. Namun sebelumnya, kenali dulu yuk apa itu emotional eating!

1. Emosi negatif yang anak alami memengaruhi perubahan berat badannya
1. Emosi negatif anak alami memengaruhi perubahan berat badannya

Anak-anak yang pada masa kecilnya bahagia dan bebas dari beban, bisa tiba-tiba diliputi emosi negatif mulai dari depresi, stres, kesepian, rasa tidak aman, dan lainnya sebagai akibat dari perubahan besar dalam hidup mereka.

Ketika ini terjadi dan menurut mereka tidak ada jalan keluar positif untuk memproyeksikan perasaannya, makanan menjadi cara yang sangat mudah bagi mereka untuk mengatasi emosi tersebut.

Dengan demikian, jika anak remaja mama terlihat terus menerus meraih makanan yang menyebabkan berat badannya bertambah beberapa hari per minggu, kemungkinan ia mengalami emiotinal eating.

2. Anak terlalu banyak mengonsumsi makanan favoritnya
2. Anak terlalu banyak mengonsumsi makanan favoritnya

Yup, semua orang memang ingin mengonsumsi makanan favoritnya sesekali, seperti saat merayakan sesuatu, baik itu ulang tahun atau merayakan pencapaiannya akan sesuatu. Namun, ketika makanan ini dimakan secara konsisten dan dalam jumlah besar, maka emotional eating mungkin berperan.

Dilansir dari Nemours TeensHealth, ketika emotional eating telah mengambil alih, maka mengonsumsi makanan favorit menjadi kebiasaan. Remaja tidak akan lagi mendengarkan isyarat lapar, dan sebaliknya akan mengambil makanan tinggi gula atau tinggi lemak yang mengisi kekosongan emosionalmu.

Jika anak mama terlihat mengongsumsi makanan favoritnya dalam jumlah besar dibandingkan pilihan makanan sehat, terutama di antara waktu makan, maka ada kemungkinan bahwa emotional eating sedang terjadi.

3. Anak makan pada waktu yang tidak normal
3. Anak makan waktu tidak normal

Setelah remaja makan malam bersama keluarga dan mengaku kenyang, namun kembali mengonsumsi makanan favoritnya 30 menit kemudian, ini adalah tanda bahwa ia sedang mengalami emotional eating.

Oleh karena itu, terlepas dari berapa ruang yang tersisa di perutnya setelah makan, akan selalu ada keinginan bagi remaja untuk mengonsumsi makanan favoritnya yang berhubungan dengan emotional eatin. Karena baginya, akan selalu ada ruang untuk apa yang diinginkan oleh otak versus perut.

4. Menimbun camilan di kamarnya
4. Menimbun camilan kamarnya

Remaja yang mengalami emotional eating ingin memastikan bahwa makanan yang memuaskan pemicunya, selalu ada di rumah. Karena ia ingin segera menuntaskan emosi tersebut dengan makanan favoritnya.

Dengan demikian, tanda selanjutnya yang bisa Mama perhatikan adalah anak mungkin memiliki obsesi untuk pergi ke mini market atau toko kelontong terdekat.

Ada rasa kontrol yang hilang jika anak merasa keadaan di luar kendali. Ketika makanan yang diperlukan untuk memerangi emosinya tidak tersedia, dan tidak ada cara untuk menenangkan perasaan itu maka dengan demikian, depresi, kecemasan, stres, dan sejenisnya harus ditangani secara langsung.

Dan sayangnya, ini adalah sesuatu yang banyak remaja mungkin tidak tahu bagaimana menanganinya sendiri.

5. Memiliki pemikiran buruk setelah makan berlebihan
5. Memiliki pemikiran buruk setelah makan berlebihan

Ketika seseorang yang tidak menderita emotional eating dan makan terlalu banyak, mereka mungkin menyadari bahwa perlu makan lebih sedikit pada hari berikutnya. Namun mereka yang mengalami emotional eating dan makan berlebihan cenderung memiliki pemikiran negatif sebagai hasilnya.

Dilansir dari Balanced Body, emotional eating berjalan dalam siklus. Saat mengonsumsi makanan yang menenangkannya, remaja merasa senang dan damai, karena reseptor kesenangan di otak sedang dirangsang.

Namun, setelah makan selesai, kesenangan itu hilang dan yang tersisa hanyalah perasaan buruk tentang diri sendiri. Perasaan negatif ini dapat membuat anak merasa buruk tentang dirinya sendiri, ditambah dengan perasaan negatif yang sudah dialami sebelum makan berlebihan.