Penyebab Anak Remaja Gak Mau Cerita Masalah dengan Orangtua

Penyebab Anak Remaja Gak Mau Cerita Masalah dengan Orangtua

Penyebab Anak Remaja Gak Mau Cerita Masalah dengan Orangtua – Memiliki anak yang sudah memasukki usia remaja mungkin akan memberi tantangan yang berbeda bagi orangtua. Tidak seperti ketika ia masih kecil dulu, anak ibu yang sudah remaja mungkin ingin terlihat lebih mandiri dan tidak mau bergantung lagi pada orangtuanya. Begitu anak tumbuh besar menjadi seorang remaja maka kedekatan itu tidak selalu sama. Bisa jadi orangtua bukanlah tempat mengadu saat anak mengalami masalah.

Ia mungkin sudah mulai malu bila ibu menciumnya di depan umum ketika mengantarnya sampai ke depan sekolah. Selain itu, anak-anak yang sudah remaja biasanya juga lebih memilih untuk menghabiskan waktu bersama teman-teman mereka dibanding orangtua mereka. Nggak sedikit remaja yang merasa kurang nyaman jika menceritakan masalahnya pada orangtuanya.

Hal ini mungkin akan membuat ibu merasa sedikit kehilangan sosok ‘Si Kecil’ yang dulunya sangat dekat dan sangat bergantung pada ibu.Berikut penyebab anak remaja nggak nyaman untuk bercerita pada orangtuanya.

1. Tidak suka urusannya diketahui
1. Tidak suka urusan diketahui

Dengan bercerita ke orangtua, anak harus mennyampaikan siapa yang terlibat dengan masalahnya, ditanyakan kronolo dan penyebabnya. Tanpa sadar orangtua masuk jauh ke dalam urusan anak.

Seringkali anak remaja tidak menyukai urusannya diketahui dan dicampuri. Ia merasa dengan mencampuri dan mengaturnya secara berlebihan itu dianggap sebagai tidak menghargai anak.

2. Tak ingin membebani orangtua
2. Tak ingin membebani orangtua

Setelah beranjak remaja, anak bisa jadi sangat intuitif terhadap orangtuanya  bahkan walaupun anak tampak cuek. Sebenarnya anak mama masih memerhatikan orangtuanya.

Oleh karena itu, mereka tidak ingin menambah beban pikiran atau apa pun pada orangtua dengan menceritakan masalah yang sedang dihadapi.

Sehingga, anak remaja cenderung memilih diam dan menyimpan masalah tersebut serta menyelesaikannya dengan caranya sendiri.

3. Orangtua biasa menuduh dan mencurigai anak
3. Orangtua biasa menuduh mencurigai anak

Secara alami anak remaja akan menjadi defensif ketika orangtua menuduh mereka sementara itu bukanlah kesalahannya. Anak tidak suka dituduh secara keliru.

Pada akhirnya anak lebih memilih untuk diam dan menyimpannya sebagai rahasia, terlebih saat orangtua tidak mempercayai apa yang dikatakan anak.

Terkadang anak berpikiran, daripada ia kasar atau berucap tidak sopan maka lebih baik diam.

4. Rahasia anak pernah diceritakan pada orang lain
4. Rahasia anak pernah diceritakan orang lain

Setiap orang ingin rahasianya terjaga. Apa sebab suatu hal menjadi rahasia? Karena mungkin itu memalukan atau aib bagi anak.

Wajar jika anak mama juga ingin rahasianya terjaga, jadi mereka hanya akan menceritakan masalahnya pada orang yang benar-benar dapat dipercaya.

Bukan bercertia pada orangtua yang oernah menceritakan rahasia anak pada orang lain.

Anak pasti tidak ingin mengulang kesalahan yang sama, akibatnya mereka jaga jarak dan enggan menceritakan masalahnya pada orangtua.

5. Keluarga di rumah rentan akan perselisihan
5. Keluarga rumah rentan akan perselisihan

Perselisihan antara orangtua di dalam rumah turut menyebabkan remaja kurang nyaman bercerita pada orangtua. Lalu ketika anak mendapatkan masalah di luar rumah, anak akan merasa dirinya sedang terjebak dalam masalah-masalah.

Daripada bercerita pada orangtuanya, anak remaja pasti akan memilih keluar rumah dan menemui temannya. Begitu pola pikir jika anak mulai memasuki usia remaja.

Sebab, remaja menilai orangtua tidak bisa menyelesaikan konflik dengan cara yang sehat, bahkan menganggap rumah sebagai tempat yang tidak nyaman dan memberi masalah untuknya.

6. Orangtua memberikan nasihat yang tidak diinginkan saat anak sedang bercerita
6. Orangtua memberikan nasihat tidak diinginkan saat anak sedang bercerita

Kadang orang bercerita hanya ingin didengar. Hanya butuh tempat mengadu.

Tapi kalau orangtua terlalu sering memberikan nasihat yang tidak diinginkan saat mereka bercerita maka mereka merasa kamu bukanlah orang yang tepat untuk jadi tempatnya mengadu.

Bukan kamu orangnya, menurut mereka.

Saat anak remaja membutuhkan saran dari orangtua, mereka akan memintanya. Jika mereka tidak terbuka untuk itu, sebelum berkomentar dan memberikan nasihat sebaiknya Mama tanyakan dulu pada anak mama, “Apakah kamu baik-baik saja, apakah kamu bisa melewati ini Nak?”

Tunjukkan jika Mama selalu ada untuk anak remaja mama.

“Kapanpun kamu mau cerita, Mama akan dengarkan. Kalau kamu ada masalah, cerita ya Nak sama Mama.”

Buka diri mama dengan cara yang positif pada anak mama.

7. Takut orangtua akan marah
7. Takut orangtua akan marah

Belum selesai cerita sudah dimarahi.

Remaja paling malas mengalami hal ini. Daripada kena omelan lebih baik tidak usah cerita. Itulah yang ada di pikiran mereka.