Inilah Remaja Malaysia yang Melawan Pelecehan Melalui Konten

Inilah Remaja Malaysia yang Melawan Pelecehan Melalui Konten

Inilah Remaja Malaysia yang Melawan Pelecehan Melalui Konten – Pelecehan  didefinisikan sebagai suatu pola perilaku menyerang yang tampak bertujuan tidak baik terhadap orang yang menjadi sasarannya, biasanya (tapi tidak selalu) dengan tujuan untuk mengancam atau mengintimidasi target utamanya.

Tujuan tindakan ini adalah untuk membuat target menjadi tidak nyaman menyunting Wikipedia, merendahkan, menakut-nakuti, atau bahkan membuat mereka kecil hati hingga akhirnya sama sekali tidak mau menyunting. Remaja Malaysia bernama Ain Husniza Saiful Nizam, secara tak sengaja, tampil menjadi pemimpin nasional melawan pelecehen seksual, dalam kasus yang terjadi di sekolahnya. Unggahannya di TikTok viral dan mendapat apresiasi publik karena mengungkap bercandaan seorang guru terkait pemerkosaan.

Dilansir dari Channel News Asia, perempuan berusia 17 tahun itu  membagikan pengalamannya ketika mengalami pelecehan seksual secara verbal dalam Poker Online Deposit Dana suatu mata pelajaran. Klip berdurasi satu menit itu mendapat tanggapan dari beribu pengguna TikTok.

1. Ain semakin tergugah untuk melawan
Ain Husniza, Remaja Malaysia yang Viral Melawan Pelecehan via TikTok

Alih-alih bungkam, reaksi tersebut justru semakin memperkuat tekadnya, untuk memerangi apa yang dia sebut sebagai perlakuan buruk terhadap perempuan dalam sistem pendidikan Malaysia.

“Kita tidak bisa membiarkan siklus pelecehan ini berlanjut di sekolah kita,” tambah Ain.

“Ketika saya membicarakannya, (saya mendapat begitu banyak) kebencian terhadap saya dan saya tidak tahu mengapa. Itu hanya usaha untuk membuat sekolah menjadi tempat yang lebih aman. Apa yang perlu diperdebatkan tentang itu?” katanya kepada AFP.

Kendati begitu, Ain terpaksa berhenti bersekolah di Puncak Alam, Kuala Lumpur, karena takut akan keselamatannya. Dia juga sempat diancam dikeluarkan dari sekolah. “Kami yang berbicara, kami yang dihukum,” ungkapnya dengan kecewa.

2. Tuntutan untuk mereformasi sistem pendidikan Malaysia

Kelompok hak asasi manusia, All Women’s Action Society (AWAM), mengatakan video yang telah ditonton 1,8 juta kali itu dianggap sebagai pemantik yang diperlukan untuk memicu perdebatan nasional seputar reformasi sistem pendidikan.

“(Insiden itu) cukup untuk menarik perhatian banyak orang. Pada saat yang sama, memperlihatkan betapa budaya pemerkosaan di sekolah telah dinormalisasi. Reformasi mendesak (diperlukan) untuk mengatasi budaya beracun pelecehan seksual di sekolah,” kata Direktur AWAM Nisha Sabanayagam.

Salah satu kritik yang diserukan AWAM adalah penghapusan terhadap pemeriksaan berkala bagi perempuan menstruasi. Murid perempuan di Malaysia diizinkan untuk melewatkan sesi salat berjamaah ketika menstruasi, hanya saja mereka harus menjalani pemeriksaan terlebih dahulu. Tidak jarang para murid mengalami pelecehan ketika diperiksa.

Bagi Ain sendiri, mencuatnya video tersebut menandakan bahwa kejadian serupa tidak hanya terjadi di sekolahannya, melainkan terjadi hampir di banyak sekolah di Negeri Jiran.

“Ini membuktikan bahwa ini bukan hanya tentang satu guru, ini tentang keseluruhan sistem pendidikan, (pelecehan seksual) terjadi pada siswa di seluruh Malaysia,” ungkap Ain.

3. Ain kecewa karena tanggapan para pejabat terkesan tidak peduli

Setelah viral dan menjadi perbincangan nasional, Ain kecewa karena para pejabat pemerintah terkesan tidak peduli dengan isu tersebut. Bukannya mendukung, kementerian pendidikan setempat justru membela surat ancaman terhadap Ain untuk dikeluarkan dari sekolah. Mereka berdalih bahwa sudah sewajarnya surat itu dikeluarkan karena Ain tidak muncul di sekolah dalam jangka waktu tertentu.

“Ada banyak anak-anak seusia saya dan aktivis yang lebih banyak menyebarkan kesadaran tentang isu-isu semacam ini. Tapi, benar-benar mengejutkan saya bahwa pejabat sebenarnya, orang-orang yang berkuasa, mereka tidak peduli tentang itu”, tutur dia.

Polisi telah memulai penyelidikan dan guru, yang tidak disebutkan namanya, telah dipindahkan dari sekolah saat penyelidikan sedang berlangsung.

Dari pengalamannya, Ain berharap dapat mendorong orang lain untuk berbicara sehingga melahirkan perubahan yang lebih besar, meski terkadang menimbulkan trauma. “Yang benar-benar ingin saya lakukan sekarang adalah agar orang dewasa mendengarkan cerita saya dan mengaturnya dengan benar untuk kita anak-anak,” tutup Ain.

4. Video Ain yang ceritakan kejadian di kelasnya itu pun viral

Video yang diunggah Ain pada April itu telah dibagikan sebanyak 12 ribu kali. Dia berdiri di depan cermin, mengenakan pakaian putih, sembari menceritakan pengalamannya di sekolah.

Ain mengungkap, semula sang guru mengajarkan tentang bagaimana melindungi diri dari kekerasan seksual. Mereka bahkan sempat membahas undang-undang yang melindungi seseorang dari pemerkosaan. Lama-kelamaan, Ain mulai resah karena sang guru mulai melontarkan bercandaan yang menyinggung soal pemerkosaan.

“Dia (guru laki-laki) berkata, jangan memperkosa yang di bawah 18 tahun, harus yang di atas 18 tahun. Karena mereka (perempuan yang diperkosa) tidak akan melapor sebab mereka juga merasa nikmat,” terang Ain.

“Para perempuan terdiam, tapi para laki-laki tertawa. Mereka menertawakan seakan sangat lucu dengan bercandaan tentang pemerkosaan,” kata dia.

Pelecehan, ancaman, pesan mengganggu dan tak diinginkan yang berulang-ulang, serta serangan pribadi yang berulang dapat mengurangi kenyamanan seorang kontributor di Wikipedia dan dapat mengakibatkan gangguan pada proyek ini jika tidak ditangani.