Tips Orangtua Menghadapi Pertengkaran dengan Anak Remaja

Tips Orangtua Menghadapi Pertengkaran dengan Anak Remaja

Tips Orangtua Menghadapi Pertengkaran dengan Anak Remaja – Pertengkaran adalah keadaan dimana perbedaan pendapat terjadi antara seseorang dengan yang lainnya, sehingga dapat memancing emosi antara kedua belah pihak. Terkadang, usaha apa pun yang kamu lakukan, tetap sulit untuk memahami remaja. Ketika anak telah memasuki usia remaja, ia mulai membentuk pikirannya sendiri, dan berada di tahap sudah menginginkan kemerdekaan atau kebebasan untuk membuat pilihan sendiri.

Dan di atas itu, bimbingan orangtua juga masih sangat diperlukan pada masa ini. Situasi inilah yang bisa menimbulkan bentrokan dan konflik besar mengamuk di rumah. Untungnya, semua harapan tidak hilang.

Jika kamu dan remaja mengalami kesalahpahaman besar, berikut idnplay poker apk akan memberikan beberapa cara bagaimana menyelesaikan konflik tersebut.  Yuk disimak, cara menghadapi saat terjadi pertengkarang dengan anak remaja!

1. Sementara, berikan anak ruang untuk sendiri
1. Sementara, berikan anak ruang sendiri

Memberi remaja sedikit ruang akan membantunya belajar cara menahan diri saat sedang marah, dan menghindari mengatakan hal-hal yang tidak boleh ia katakan dalam perdebatan sengit. Ini juga memungkinkan anak untuk mengidentifikasi perasaannya sendiri.

Biarkan anak remaja mengeluarkan emosi negatifnya. Jika konflik menyebabkan anak menangis, biarkan ia duduk sendiri di kamar untuk memproses emosi. Dan saat kamu dan anak sudah tenang dan siap, saat itulah kamu dapat mengajak anak untuk berbicara.

2. Penting untuk selalu mendengarkan anak
2. Penting selalu mendengarkan anak

Pengingat penting lainnya adalah, selalu berpikir bahwa anak remaja bisa lebih pintar dari yang kamu pikirkan. Dan, menjadi orangtua tidak berarti membuat kamu selalu benar.

Dengarkan dan pertimbangkan perasaannya. Jangan memutuskan untuk menutup telinga hanya karena tidak setuju dengan anak. Melalui cara ini, anak dapat merasakan bahwa meskipun ada konflik, cinta dan rasa saling menghormati antara Mama dan anak akan selalu hadir.

3. Duduk, minta maaf, dan bicara
3. Duduk, minta maaf, bicara

Setelah anak menghapus air mata dan menenangkan diri, saat itulah kamu dapat berbicara. Kunjungi anak remaja di kamarnya untuk berbicara.

Kamu dapat meminta maaf karena menunjukkan kemarahan dan kekesalan, dan minta maaf karena mungkin telah mengatakan hal-hal yang tidak pantas yang telah menyakiti perasaannya.

Dan ketika giliran kamu untuk berbicara, terbukalah tentang apa yang kamu rasakan. Jelaskan sudut pandang tanpa memaksakannya pada anak. Dan jika memungkinkan, kamu dapat bernegosiasi dengan anak untuk menemukan solusi yang baik untuk semua pihak.

4. Hindari mencoba untuk mengontrolnya
4. Hindari mencoba mengontrolnya

Setelah kesalahpahaman, mungkin agak canggung berada di sekitar satu sama lain. Anak mungkin perlu beberapa saat untuk melepaskan perasaan negatifnya, dan kamu juga mungkin masih menyimpan rasa frustrasi.

Jika ini terjadi, selalu ingatkan diri sendiri bahwa apa pun yang terjadi, kamu dan anak adalah keluarga. Dan, sebagai orangtua, adalah tugas kamu untuk mendidik anak menjadi dirinya sendiri, bukan mengendalikannya.

Karena kemungkinan besar, jika terlalu mengontrol, anak mungkin mencoba menghindari konflik dengan menyelinap atau berbohong kepada orangtua. Akibatnya, anak akan terlalu terisolasi secara emosional, dan tentu saja, kamu tidak menginginkannya, bukan?

5. Jika keadaan tidak membaik, penting untuk melakukan konseling
5. Jika keadaan tidak membaik, penting melakukan konseling

Jika kamu atau anak menunjukkan tanda-tanda pelecehan dan kekerasan, mungkin sudah saatnya untuk mencari terapi untuk bisa menangani konflik.

Terapis berpengalaman dapat membantu kamu dan anak membongkar semua emosi yang tertekan, dan juga membantu kamu dan anak untuk berkomunikasi dengan cara yang sehat dan memberdayakan.

Dilansir dari Boulder Psychological Services, terapis keluarga dapat membantu seluruh keluarga membuat kesepakatan bersama yang nantinya akan membantu keluar dari perebutan kekuasaan di rumah.

Dan melalui konseling, kamu dan anak dapat meredakan pola konflik apa pun, sehingga dapat menghindari kesalahpahaman yang berulang, menciptakan batasan, dan membicarakan perasaan dengan cara yang efektif.

Masa-masa remaja adalah masa yang berat bagi anak dan juga bagi orangtua. Walaupun tak mudah dan banyak tantangannya, penting bagi kamu untuk tetap bersabar dan menganggap bahwa ini adalah tahap belajar anak untuk menjadi dewasa.

Bagaimanapun juga, remaja masih membutuhkan bimbingan dan kasih sayang dari orangtua, sehingga jangan biarkan konflik berlarut-larut. Menyelesaikan konflik dengan cara yang positif juga mengajarkan anak bahwa sebesar apapun konfliknya, ini bisa diselesaikan dan menemukan solusi yang baik untuk semuanya.